BNI Jaga Momentum Pertumbuhan di Tengah Tekanan Global, Kedepankan Pengelolaan Risiko Secara Disiplin

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI berkomitmen menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan ketidakpastian global dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, dan pengelolaan risiko secara disiplin.

Pernyataan itu, disampaikan Direktur Utama (Dirut) BNI, Putrama Wahju Setyawan, dalam pemaparan kinerja keuangan BNI kuartal I Tahun 2026, pekan lalu.

Menurut dia, BNI mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi dan tantangan global, seiring ketidakpastian yang meningkat akibat konflik Timur Tengah.

Hal itu, terlihat dari kinerja solid yang dicapai BNI pada kuartal I 2026 dengan lmembukukan aba bersih sebesar Rp5,6 triliun. Capaian ini mencerminkan ketahanan model bisnis perseroan, yang ditopang oleh penguatan fundamental, peningkatan produktivitas, serta transformasi berkelanjutan.

“BNI berkomitmen menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika global yang penuh tantangan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko,” kata Putrama.

Terkait dengan itu, lanjutnya, BNI akan terus memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus menghadirkan inovasi layanan digital, dan pembiayaan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih kuat.

Putrama mengungkapkan, kinerja solid BNI di kuartal I 2026 ditopang oleh pertumbuhan kredit, penguatan basis dana murah (CASA), transformasi bisnis BRAVE (Branch, Region, Area, Value, Empowerment), hingga penguatan permodalan lewat penerbitan instrumen Additional Tier-1 (AT1) global.

Seperti diketahui, BNI telah menjalankan transformasi bisnis yang difokuskan pada wilayah, area, dan cabang, melalui BRAVE, yang dimulai pada kuartal IV 2025.

Transformasi BRAVE bertujuan meningkatkan kapabilitas jaringan BNI hingga ke unit operasional terkecil, yaitu memberdayakan kantor cabang dan kantor cabang pembantu sebagai point of sale utama atas produk dan layanan perbankan.

Dengan implementasi BRAVE, perseroan menatrgetkan kredit dan CASA tumbuh secara berkualitas dan berkelanjutan, diikuti peningkatan market share BNI di industri perbankan, dan berujung pada meningkatnya produktivitas cabang-cabang BNI yang saat ini berjumlah lebih dari 1.700 cabang di seluruh Indonesia.

“Sekitar 6 bulan setelah inisiatif BRAVE dimulai, BNI berhasil mencatatkan pertumbuhan bisnis yang melampaui rata-rata industri, baik dari sisi penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga,” ungkap Putrama.

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menyampaikan struktur pendanaan, terutama dari dana murah (CASA) menjadi penopang utama kinerja perseroan di kuartal I 2026.

Menurut dia, CASA BNI kini semakin solid, dan menjadi enabler bagi ekspansi kredit sekaligus menjaga efisiensi biaya dana, serta mengindikasikan peningkatan pangsa pasar di tengah kompetisi likuiditas yang ketat.

Per kuartal I 2026, CASA BNI tumbuh 26,6% menjadi Rp731,6 triliun pada Maret 2026, didorong oleh pertumbuhan giro sebesar 39,7% dan tabungan sebesar 10,4%.

Seiring dengan itu, BNI juga berhasil meningkatkan CASA market share sebesar 120 basis poin (bps) dari 10,1% pada Maret 2025 menjadi 11,3% pada Februari 2026.

Seimbang dan Sehat

Pertumbuhan CASA tersebut mendorong DPK BNI mencatatkan pertumbuhan pesat sebesar 34,3% menjadi Rp1.100,58 triliun secara tahunan atau year -on-year (yoy) pada kuartal I 2026, dengan pertumbuhan tertinggi pada deposito berjangka sebesar 52,6% (yoy) menjadi Rp369,01 triliun.

Hal itu, lanjutnya, juga mendorong penyaluran kredit perseroang yang seimbang dan sehat, yakni mencapai 20,1% menjadi Rp919,3 triliun pada Maret 2026.

“Pertumbuhan kredit ini berlangsung seimbang, baik pada segmen business banking maupun consumer ritel, sehingga mendukung pembiayaan terhadap aktivitas ekonomi nasional,” ungkap Paolo.

Dia mengungkapkan, platform digital turut menjadi pendorong utama dalam memperkuat pertumbuhan tersebut. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 13 juta dengan tingkat engagement yang meningkat signifikan, berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan tabungan ritel.

Platform BNIdirect juga mencatat pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16% (yoy), yang berperan dalam memperkuat dana giro korporasi serta meningkatkan efisiensi layanan bagi segmen bisnis.

Paolo menjelaskan, struktur pendanaan yang tumbuh solid dan ekspansi kredit yang sehat menopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 12,1% (yoy). Pendapatan non-bunga juga tumbuh 12,6% terutama didorong peningkatan fee dari transaksi pada platform digital atau e-channel.

“Kinerja yang positif ini mendorong Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,3 triliun, yang merupakan pencapaian tertinggi dibandingkan dengan kuartal I pada tahun sebelumnya,” tutur Paolo.

Dari sisi kualitas aset, lanjutnya, perbaikan kinerja terus berlanjut dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik menjadi 1,9%, Loan at Risk berada di level 8,6% atau sudah lebih baik dari level sebelum pandemi, serta credit cost di level 1,1% sesuai dengan guidance.

Dia menuturkan, fundamental keuangan BNI juga tetap terjaga kuat, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,5%, serta rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di level 18,5%, jauh di atas ketentuan regulator. Hal ini mencerminkan peran intermediasi yang optimal serta struktur permodalan yang sehat.

“Kinerja solid BNI selama kuartal I 2026 ini, menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,” ujar Paolo.

Dengan kinerja solid pada kuartal I 2026, Paolo optimistis BNI dapat menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun ini. Itu sebabnya, BNI tetap mempertahankan target kinerja perseroan di tengah dampak ketidakpastian global.

Paolo menyampaikan, BNI tetap mencermati potensi dampak perlambatan ekonomi akibat konflik Timur Tengah, yang diprediksi mempengaruhi kondisi ekonomi global pada paruh kedua tahun ini.

Meski demikian, belum ada rencana untuk melakukan revisi terhadap target pertumbuhan Tahun 2026, karena meyakini kinerja solid berkelanjutan dapat dipertahankan perseroan.

“Untuk saat ini kami belum mengubah guidance, target pertumbuhan kredit tahun ini tetap di kisaran 8% hingga 10%. Tetapi kami juga tidak berasumsi semuanya akan berjalan mulus,” ujar Paolo.

  • Related Posts

    Purbaya Pastikan Aturan DHE SDA Segera Disahkan

    Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa regulasi baru mengenai penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) telah selesai disusun dan siap…

    Pembaruan UMR Yogyakarta 2026: Lihat UMP dan Daftar UMK Terbaru

    Penetapan UMR Yogyakarta untuk tahun 2026, yang dikenal dengan UMK Jogja 2026, telah resmi diumumkan bersamaan dengan daerah lain yang berlaku mulai 1 Januari ini. Kebijakan penyesuaian UMK Jogja 2026…

    You Missed

    BNI Jaga Momentum Pertumbuhan di Tengah Tekanan Global, Kedepankan Pengelolaan Risiko Secara Disiplin

    • May 6, 2026
    • 2 views
    BNI Jaga Momentum Pertumbuhan di Tengah Tekanan Global, Kedepankan Pengelolaan Risiko Secara Disiplin

    Desain iPhone Fold Tampilkan Layar Depan Luas

    • March 10, 2026
    • 100 views
    Desain iPhone Fold Tampilkan Layar Depan Luas

    Iran jadikan aset ekonomi AS sebagai target serangan

    • March 9, 2026
    • 88 views
    Iran jadikan aset ekonomi AS sebagai target serangan

    Bahlil: Proses Impor Minyak dari AS Berjalan Bertahap

    • March 5, 2026
    • 106 views
    Bahlil: Proses Impor Minyak dari AS Berjalan Bertahap

    Bahlil Pastikan Stabilitas Harga BBM Subsidi di Tengah Ketegangan Timur Tengah

    • March 4, 2026
    • 97 views
    Bahlil Pastikan Stabilitas Harga BBM Subsidi di Tengah Ketegangan Timur Tengah

    Harapan Dubes Iran terhadap Sikap Tegas D-8

    • March 3, 2026
    • 89 views
    Harapan Dubes Iran terhadap Sikap Tegas D-8